Proses Belajar dari Rumah Banyak Kendala, Tapi Siswa Tetap Semangat

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan kebijakan bagi anak sekolah untuk melakukan proses belajar dari rumah dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona (Covid-19).

Untuk mendukung kebijakan Presiden, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim juga mengeluarkan instruksi lewat Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Salah satu dari isi surat edaran tersebut terkait proses belajar dari rumah di tengah penyebaran wabah Covid-19.

Aturan tersebut berisi tentang bagaimana memprioritaskan kesehatan para siswa, guru, dan seluruh warga sekolah.

Proses belajar dengan konsep jarak jauh di SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi secara daring saat ini tengah digembar-gemborkan Kemendikbud sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Secara Nasional, proses belajar dari rumah merupakan hal yang baru baik bagi pemerintah, guru, siswa atau mahasiswa, walaupun sudah ada beberapa sekolah yang menerapkan sistem ini sebelumnya.

Bagi orang tua/wali murid, kebijakan proses belajar di rumah juga merupakan hal yang baru. Tidak jarang mereka menemukan kendala untuk membantu anak-anak mereka melaksanakan proses belajar dari rumah.

"Kalau saya ya memang biasa ngajar. Tapi untuk orang tua yang nggak biasa ngajar mungkin kerepotan," ujar Rahayu (47), seorang guru dan orang tua dari murid yang melakukan proses belajar dari rumah.

"Karena biasanya (kegiatan mengajar) diserahkan kepada guru, sekarang (orang tua) harus jadi guru di rumah, ya pasti banyak kendalanya," lanjut Rahayu di kediamannya di kawasan Gading Serpong, Jumat (3/4/2020).

Guru di SDN Pademangan itu mengatakan, berdasarkan pengalamannya sejumlah kendala dari orang tua murid yang anaknya melakukan proses belajar dari rumah di tengah wabah ini adalah pendidikan orang tua yang memang kurang.

Hal tersebut yang membuat para orang tua kesulitan memahami alat penunjang maupun materi, ketika anak membutuhkan bantuan. "Kedua, kendalanya adalah kesiapan media atau alat penunjang seperti handphone," ujarnya.

"Ada keluarga yang kadang satu handphone dipakai untuk satu keluarga. Jadi harus bergantian. Jadi untuk mengirim hasil dari kegiatan itu bisa sampai 24 jam. Tidak seperti di sekolah, ada batas waktu misalnya sekolahnya sampai jam 12, maka jam 12 sudah harus dikumpulkan," lanjutnya.

Kuota internet atau paket data internet juga menjadi salah satu kendala.

Rahayu mengatakan sebagian dari murid juga ada yang terkadang terlambat mengirimkan tugas mereka, dan disampaikan orang tua/wali murid mereka dikarenakan keterbatasan kuota internet.

"Kuota internet termasuk jadi kendala, karena banyak orang tua yang sudah teriak kuota habis, jadi tugas agak lambat (dikirim) karena kehabisan kuota," lanjutnya.

Orang tua dari siswa yang bernama Raffa Alghifary itu juga mengatakan anaknya yang masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK) juga turut melakukan proses belajar dari rumah, dimana setiap harinya harus mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan gurunya.

"Kalau Raffa setiap hari diberikan tugas dan setiap hari harus mengumpulkan tugasnya dan dikirim ke gurunya lewat WhatsApp," ujarnya.

Walaupun terdapat banyak kendala, banyak murid juga merasa antusias dengan proses belajar dari rumah.

Dengan sejumlah kendala maupun keterbatasan, mereka juga berusaha untuk menyelesaikan tugas dan mengirimnya lewat sejumlah media, mulai dari WhatsApp, Instagram, hingga Google Form.

"Ini memang pengalaman baru juga bagi murid, excited juga mereka. Dengan keterbatasan yang ada, mereka berusaha untuk menyelesaikan tugas-tugas itu," lanjutnya.