Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an


Pada kesempatan ini kami akan ulas tentang Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an. Allah berkuasa atas rezeki seluruh makhluk-Nya di dunia ini. Rizki yang dimaksud bisa berupa materi dan bisa pula berupa non-materi. Rejeki yang berupa materi, di antaranya uang, perhiasan, kendaraan, rumah, tanah, dan sebagainya. Sedang rizki yang non-materi antara lain berwujud kesehatan, ilmu pengetahuan, pekerjaan, keluarga yang harmonis, isteri yang salehah, anak-anak yang pintar, relasi yang baik, lepas dari bahaya, wafat dalam kondisi husnul khatimah, dan masih banyak yang lainnya.

Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur'an
Dari beraneka ragam rejeki itu, ternyata terdapat rezeki yang paling banyak kita nikmati, adalah rejeki berupa hidup dan kehidupan. Kesempatan menjalani kehidupan di dunia ini, yaitu rezeki yang wajib disyukuri dari hati nurani paling dalam. Para pakar sufi menekankan bahwa rezeki ada pada hati nurani atau jiwa manusia. Oleh karenanya, Islam mengarahkan buat tetap bertaqwa pada Allah SWT, supaya jiwa kita berkilau memancarkan rejeki dan nikmat yang gak terhingga.
Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an
Di antara semua makhluk, yang paling banyak memiliki rezeki dari Allah SWT yakni manusia. Manusia merupakan makhluk mulia, yang dikaruniai dengan rejekinya masing-masing. Meski rejeki udah diatur oleh Allah SWT, namun kalian perlu ikhtiar sesuai dengan kecakapan dan potensi masing-masing. Dengan menyempurnakan ikhtiar, insya Allah kita bisa mendapat rizki yang diharapkan. Akan tetapi agar rezeki yang banyak dan penuh berkah, sahabat semua gak cukup hanya mengandalkan ikhtiar aja, tapi wajib diimbangi dengan ibadah dan ketaatan terhadap Allah SWT. Hal ini sebagaimana dikemukakan Allah dalam Hadis Qudsi:
“Duhai bani adam, luangkanlah waktumu buat beribadah pada-Ku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki. Sebab, sekiranya kalian menjauh dari-Ku, Aku bakal memenuhi hatimu dengan kefakiran dan memenuhi kedua tanganmu dengan aktivitas dunia” (HR. Hakim).

Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an

Pelajaran penting yang bisa kita petik dari Hadis Qudsi tersebut adalah:
  1. Allah yang maha kaya memperingatkan kita supaya menyempatkan waktu untuk beribadah pada-Nya, ketika kita sibuk mencari rejeki.
  2. Orang-orang yang enggak melepaskan beribadah pada Allah SWT, meski dia sibuk bekerja, niscaya Allah bakal memberikan rezeki kepada mereka secara berlimpah. Kebalikannya, mereka yang melewatkan ibadah kepada Allah SWT dengan alasan dunia, niscaya Allah SWT akan menimpakan kefakiran.
Siapa aja yang ingin diluaskan rejekinya dan dipenuhi seluruh kepentingannya, selain menyempurnakan ikhtiar, seyogianya dia memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Karena, gak sedikit ibadah yang jika dilakukan dengan berlapang dada dan benar bakal memberi dampak untuk datangnya ‘rezeki yang berlimpah dan barokah’.
Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an
Allah SWT mengharuskan pada manusia untuk mengoptimalkan ikhtiar dalam rangka menjemput rizki. Sedikit atau banyaknya manusia mendapat rizki bergantung pada kadar ikhtiar yang dilakukannya. Manusia yang aktif bekerja dengan seluruh tenaga, pikiran, ilmu, dan potensi yang dimilikinya, kemungkinan besar bakal mendapat rezeki berlimpah. Kebalikannya, manusia yang malas dan enggan bekerja kemungkinan akan menjalani kesusahan rizki dan hidup kekurangan. Tetapi, selain dengan ikhtiar, rizki bisa juga dijemput dengan mengembangkan ibadah.
Terdapat beberapa ibadah yang mengundang rezeki. Seseorang yang istiqomah melaksanakan sholat Dhuha, contohnya, dia akan gampang memperoleh rezeki. Hal ini bukan berarti dia cukup dengan shalat Dhuha saja, kemudian malas kerja. Tapi dia tetap kudu kerja, disamping enggak boleh lupa buat melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Selain shalat Dhuha, masih banyak ibadah lain yang jadi pemicu lancarnya rezeki seseorang.
Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an
Demikian pula mayoritas orang menyangka rizki hanya bisa didapatkan dengan kerja keras dan tidak ada hubungannya dengan ibadah, sehingga dia sibuk bekerja dari pagi hingga petang, sedangkan ibadah ditinggalkannya. Bahkan, enggak sedikit orang yang berkeyakinan bahwa rizki yang didapatnya yakni hasil ikhtiarnya sendiri dan tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Akibatnya, setelah mendapat rizki, dia pongah dengan memperlihatkan harta atau pelit dan gak mau berbagi dengan orang lain.
Kadang kala dalam hidup, kepedihan atau keputusasaan seperti uang yang dikumpulkan bertahun-tahun sirna karena dibohongi, atau uang yang dipersiapkan buat tujuan seperti mau membuat rumah atau membayar sekolah putra putri mendadak terpakai oleh sesuatu yang tidak terpikirkan atau terencanakan. Kendaraan mendadak rusak, atau putra putri yang teman-teman semua kasihi mendadak sakit dan mebutuhkan uang banyak untuk berobat. Banyak pula orang-orang yang putus asa, malah ada pula yang frustasi sebab kekesalan yang mendalam dan tak bisa memperoleh kenyataan pahit dalam hidup, setelah rumah yang dibuat dari tetes keringat yang dikumpulkan bertahun-tahun tiba-tiba terbakar.
Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an
Terdapat pula pedagang atau pengusaha yang kalah bersaing sebab persaingan yang semakin ketat, padahal sebelumnya bisa menghasilkan profit besar, yang bisa mencukupi kebutuhan buah hati, pasangan dan keluarga besarnya, namun tiba-tiba mesti menerima kenyataan pahit, dikarenakan pendapatannya telah jauh berkurang. Para pekerja juga kadang kala pula mendapati frustrasi dalam hidupnya, karena jabatannya diturunkan, karena pengaruh krisis moneter, atau sebab kekeliruan kerja diberhentikan dari kerjaannya yang dilakoninya bertahun-tahun. Sungguh menyedihkan.
Banyaknya kehampaan yang dialami oleh partner, tetangga, ataupun saudara, bahkan bisa oleh teman-teman semua sendiri. Frustrasi itu menjadikan manusia sadar, bahwa tidak segala harapan bisa menjadi kenyataan sesuai dengan kemauan. Hendaknya pun Anda menyadari, bahwa rezeki yang sebenar-benarnya milik Anda yang paling hakiki adalah rejeki yang dimakan dan rezeki yang digunakan. Jikalau uang deposito atau tabungan atau di dompet yang dimiliki, pada dasarnya sebelum uang itu dipake untuk makan atau dipergunakan untuk sandang atau papan, uang itu artinya benar-benar menjadi milik Anda.
Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an
Mari bersyukur dengan apa yang dimiliki, seberapa pun banyak atau sedikitnya punya kalian. “Berapa banyak binatang melata yang enggak sanggup membawa rejekinya (makanan keperluannya), Allah-lah yang menjamin rizkinya, juga terhadapmu” (Q.S. Al Ankabuut 29: 60).
Pada hari ketika pintu-pintu kebarokahan Allah SWT dibuka lebar-lebar, bersyukurlah senantiasa dengan apa yang dikasih Allah SWT, agar hidup kalian dipenuhi keberkahan, rezeki dimudahkan, urusan-urusan dimudahkan, kegembiraan-kegembiraan senantiasa diiringkan.
Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an

Dalam perkara rezeki, standar belanja masyarakat umumnya naik. Di sinilah perlunya manusia berhemat, dari keperluan yang satu menuju kebutuhan yang lain. Tetapi semua itu dapatkah terpenuhi dengan baik? Jarang sekali bisa kamu jumpai orang yang tulus melakukan ibadah, sepanjang waktu berderai air mata disebabkan enggak kebagian rejeki. Tak semua orang bisa menikmati seluruh rezeki itu dengan baik.
Berbicara perosalan rejeki, nampaknya amat penting bagi kita buat berupaya membahas hakikat rizki. Sederhananya seperti ini, ada seorang majikan menginstruksikan hamba sahayanya buat menimba, gak mungkin majikan ini lupa memberi makan terhadap hamba sahayanya. Sebab jikalau lupa, maka hamba sahayanya ini tak bakal dapat bekerja. Semakin baik kerjanya, akan dicukupi bajunya atau kebutuhan lainnya.
Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an
Kira-kira siapa yang memerintahkan kita buat beribadah? Benar sekali, Allah SWT-lah yang memerintah kalian semua buat beribadah. Terus, gimana mungkin Allah SWT enggak akan mencukupi keperluan hambanya jika Anda beribadah? Kalian semestinya percaya pada Allah SWT contoh, diminta untuk shalat, dan dari beberapa persyaratan sahnya shalat salah satunya ialah mesti menutupi aurat. Pasti Allah mencukupi rejeki hamba-Nya untuk menutup aurat, karena Dia sendiri yang menugasi kalian menutup aurat.
Allah meminta kita buat bederma. Bagaimana mungkin kita bisa beramal apabila kita enggak diberikan rizki, sementara Sang Pemberi rezeki itu sendiri ialah Allah SWT? Kita pasti diberikan makan, sebab bagaimana mungkin kita bisa menolong orang atau bisa ibadah, kalau kita tak dikasih makan? Jadi, bila aja kita tahu keharusan kita dan mengerjakannya dengan bagus, maka Allah engga akan menyia-nyiakan kita, hamba-Nya.
Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an
Maka, kewajiban yang pertama yakni husnudzan (berbaik sangka), bahwa Allah SWT adalah Maha Penjamin rizki. Karena Allah berfirman dalam Hadits Qudsi, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku”. Yang kedua, ikhtiar di jalan yang Allah sukai itu yakni baik.
Bila Allah menginstruksikan kita buat jujur, lakukan saja. Tak perlu ogah mengerjakannya. Mungkin kita pernah mendengar ungkapan ini, “Dari rejeki tak jujur aja susah, apalagi bila jujur”. Gak akan mungkin Allah SWT, yang menyuruh kita jujur, lantas kemudian Dia tak memberi kita rezeki? Kamu diperintahkan membayar zakat, bayarkan saja. Tambahan lagi, uangnya pun milik Allah. Kalau Dia ingin mengambilnya kembali, kamu engga bisa membantah. Bila pun engga membayar zakat, uang yang bukan punya atau hak kalian tetap patut keluar.
Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an
Umpamanya, tiba-tiba teman-teman semua mengalami kecelakaan tabrakan mobil, kebakaran rumah, atau bisnis kolaps, sakit dengan tarif pengobatan yang benar-benar tinggi, dan masih banyak yang lainnya. Engga ada yang bisa teman-teman semua perbuat. Pada akhirnya, uang yang emang bukan punya atau hak kita tadi akan dan semestinya keluar juga. Daripada ‘dipaksa’ oleh Allah supaya mengeluarkan uang, lebih bagus marilah membayar zakat dengan segera dan iklas.
Udah saatnya berangkat haji, bayarkan aja ongkos haji. Apalagi, uangnya juga milik Allah, kenapa kudu pusing-pusing mencari alasan? Allah-lah yang Maha mengontrol lalu lintas rizki setiap hamba-Nya. Maka hakekatnya, hidup ini bakal enak seandainya kita telah tahu formulanya. Sayangnya adakalanya, umumnya manusia lebih sibuk merenungkan apa yang dijanjikan Allah ketimbang apa yang menjadi kewajibannya. Uraian tersebut kurang lebih yaitu hakikat rezeki. Yang penting, yakni tunaikan keharusan kita lebih dahulu maka rizki bakal terlampiaskan.
Sekian info seputar Membahas Hakekat Rezeki Berdasarkan Al Qur’an, kami harap postingan ini bermanfaat untuk kalian. Kami berharap post ini disebarluaskan biar semakin banyak yang mendapat manfaat.
Referensi: