Bupati Purworejo Bilang Keraton Agung Sejagat Angkat Daerah Purworejo



Kabupaten Purworejo belakangan ini sedang jadi sorotan dengan kehadiran Keraton Agung Sejagat. Munculnya kerajaan itu bahkan membuat cukup banyak orang yang penasaran dan datang langsung ke sana. Contohnya saja pada Selasa (14/1/2020) lalu saat KAS sedang melambung dalam sehari 250 orang tercatat mengunjungi KAS yang ada di Dusun Pogung, Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo. Bahkan momen KAS dimanfaatkan sejumlah pedagang dengan adanya pasar tiban. Hal inilah yang kemudian membuat Bupati Purworejo, Agus Bastian senang.
Bupati Purworejo itu mengaku dengan kehadiran KAS, membuat kabupaten itu lebih dikenal. Memang ada saja pemberitaan yang tentunya membawa nilai positif dan negatif. Namun Agus menyikapinya dengan senang dan ungkapan terima kasih.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada media tentu ada plus-minusnya. Saya berharap bahwa apa yang terjadi ini adalah hikmah dari kegiatan yang tentu saja membawa Kabupaten Purworejo lebih dikenal di seantero jagat. Ini bagi kami merupakan nilai positif," kata Agus di Purworejo, Sabtu (18/1/2020).
Ia juga berterima kasih pada Totok Santoso Hadiningrat dan juga Fanni Aminadia yang menjadi inisiator kerajaan itu.
"Saya malah justru berterimakasih sama apa namanya, sama itu Pak Totok atau sinuhun Raja Keraton Sejagat itu," katanya.
Ia juga angkat bicara soal kirab yang dilakukan Keraton Agung Sejagat, Jumat (10/1) lalu. Ia berharap kegiatan kirab Keraton Agung Sejagat dipandang tidak terlalu serius melainkan dipandang sebagai kegiatan pawai budaya saja. Bahkan ia berharap jal itu menjadi inspirasi bagi masyarakat Purworejo lainnya untuk nguri-uri budaya untuk membentuk destinasi budaya di kabupaten itu.
"Saya kira dibalik kontroversi Kerajaan Agung Sejagat, Pemerintah Daerah Purworejo hanya menanggapi bahwa kegiatan itu pada tanggal 10, hari Jumat itu adalah kegiatan nguri-uri (melestarikan) budaya," katanya.
Agus bahkan meyakini bahwa memang di masa lalu Purworejo sangat kaya akan sejarah berupa kerajaan yakni Mataram Kuno.
Karena itu ia beranggapan bahwa tidak salah kegiatan yang dilakukan Toto dalam rangka nguri-uri budaya. Bahkan harapannya kirab yang pernah dilangsungkan Toto bisa menginspirasi masyarakat lain untuk membuat kunjungan wisata ke Purworejo.
"Kalau ternyata di dalam ada sesuatu hal yang berkaitan dengan hukum, maka saya melihat bahwa jika tidak melakukan hal-hal penyimpangan saya kira itu merupakan suatu hal yang baik dan kegiatan ini menginspirasi warga masyarakat Kabupaten Purworejo untuk terus menggali potensi budaya yang ada di Kabupaten Purworejo disuguhkan kepada para wisatawan," imbuh Agus.